GARIS

Siang lengas di luar rumah. Selembar daun terjatuh, melayang, berputar, lalu mendarat perlahan di bawah jendela sebuah kamar yang daunnya membuka. Di dalamnya ada dua perempuan, dua generasi, terhubung oleh garis yang menjadikan mereka anak dan ibu, murid dan guru, dicinta dan mencinta. Dua perempuan menggugat hak bernafas di bumi selama hampir empat belas tahun. Dua jiwa, dua benak, yang dulunya sempat ada dalam satu badan. Mereka ada disana sekarang, dalam kamar ukuran empat kali lima.

Perempuan kecil itu memegang sebuah buku berwarna hijau, terpapar pada gemetar tangan kiri. Matanya menatap jalang minta penjelasan di sepasang danau teduh yang pertama dia cari ketika lutut atau hatinya terluka. Perlahan, ibunya memandangi buku dan wajah si anak berganti-ganti. Ia menggamit tangan sang putri untuk turut duduk bersisian di bibir ranjang.

“Kenapa bisa begini, Bu?”

Napas keduanya terasa berat hingga membuat dada sesak meskipun udara berangsur sejuk. Sepasang kejora pada raut wajah kanak-kanak membara menantang danau yang tetap kukuh dalam teduh. Ada semburat pedih saat sang ibu mengerjap, hanya sekilas, ketika kepala sang anak surut ke belakang waktu tangan ibu hendak mampir di ubun-ubun.

“Nak, Ibu tak akan membela diri dan tak merasa patut dibela tentang tanggal pernikahan Ibu dan Ayah. Kamu sudah besar, sudah bisa berhitung. Ketika kamu tiga bulan di perut Ibu, Ayah baru berani bicara ke keluarga besar perihal langkah yang bablas,” jelasnya lembut.

“Kenapa Ibu nggak menikah dulu baru hamil?” tanya sang anak.

“Karena cinta kami terlarang. Eyangmu, paman dari Ayah yang menikahi sepupu Ibu, tidak merestui kami. Kami bertemu waktu Ibu ngenger pada mereka selepas SD. Mereka membiayai sekolah Ibu karena nenekmu janda yang ditinggal kawin lari suaminya.”

“Tapi kan…”

“Ya, apa yang kami perbuat memang tidak pantas,” tukasnya.

Bocah itu menunduk. Kali ini membiarkan gerai rambut pada kening diusap lembut sang ibu.

“Ibu tidak memintamu mengerti. Kelak ketika kamu besar mungkin kamu akan paham. Ibu dan Ayah memang muda dan bodoh waktu itu, tidak berhitung bahwa apa yang kami awali hanya akan membawa derita lebih jauh. Kami bahkan sempat berpikir untuk meniadakan apa yang tidak seharusnya ada dengan harapan masalah bisa selesai dengan sendirinya.”

Belaian terhenti di udara ketika wajah si anak menengadah dengan raut berpikir keras.

“Maksud Ibu?”

“Kami nyaris menggugurkanmu…” sahut sang ibu lirih.

Si anak hanya terdiam dalam pias menanti kata-kata lanjutan melalui sorot mata sarat pertanyaan tanpa suara. Bening kaca cair mulai mengambang dari muara di pangkal hidung sang ibu mendapati nyeri yang seperti menghunjam uluhati. Dia tidak ingin sakit yang sama melanda putrinya karena kekalutan masa lalu.

“Ibu belum lulus SMA waktu itu. Dan Ibu pikir akan sangat mudah melarutkan janin dengan jamu peluntur yang akan merubahmu menjadi gumpalan darah di lubang jamban lalu hilang terbanjur beberapa gayung air.”

“Kenapa nggak jadi?”

“Karena Ibu tidak ingin menimbun dosa dengan dosa. Waktu tidak bisa diputar ulang seperti jam tangan. Jadi, kami memutuskan berterusterang pada keluarga besar dan menanggung semuanya bersama.”

“Ibu nggak digamparin Eyang? Biasanya kan orangtua suka begitu kalau anaknya ketahuan hamil.”

Sang ibu tersenyum sambil mengusap airmata yang meluncur satu-satu di pipi.

“Ayah ditampar Eyang Kakung ketika kami disidang. Namun Ibu bangga padanya karena dia tidak mengaduh, padahal tidak sekali pun ayahmu pernah berkelahi atau ikut bela diri. Ayahmu membela Ibu habis-habisan ketika Eyang berencana mencarikan lelaki lain untuk menikahi Ibu. Setelah banyak persidangan keluarga, sebulan kemudian kami menikah. Waktu itu kamu sudah berusia empat bulan di kandungan…”

“Kenapa? Eyang nggak suka sama Ibu? Atau Eyang sudah punya calon untuk Ayah?” tanya si anak polos.

“Karena Ibu tidak berasal dari keluarga berada. Nenek cuma seorang perawat tanpa suami yang harus membesarkan Ibu, Pakdhe dan Om sendirian sementara Yang Kung seorang mantri pertanian di kampung. Keluarga Yang Kung kaya. Kamu ingat kan rumah Yang Kung punya hutan dan sungai sendiri? Kami tidak satu kasta,” jawab sang ibu.

Si perempuan kecil menunduk menatap buku tipis hijau pada tangan yang tidak lagi gemetar. Buku yang dia temukan di dalam kotak sepatu bersama sebundel surat cinta dari dan untuk ayahnya terikat oleh pita merah marun. Di dalamnya juga terdapat foto-foto pernikahan ayah dan ibunya yang lebih mirip pawai tujuhbelasan.

Namun dari buku itulah dia menalar bahwa pasangan yang menikah bulan September dan berbayi tiga bulan setelahnya adalah aneh. Apalagi wajah bocah kurus agak buncit yang gagal ditutupi dengan makeup tebal dan kebaya pengantin sekalipun. Raut sang ayah di sebelahnya mengingatkan si anak pada dirinya sendiri, takut dan cemas saat harus menjaga adik bayi sementara orang-orang dewasa terlambat pulang hingga tengah malam.

Saat kepalanya kembali tengadah, dia melihat sang ibu memandanginya dengan kelembutan yang sama. Tetes air masih mengalir pelan dari sudut mata perempuan yang baru berusia tiga puluh satu itu.

“Ibu nggak marah aku nemuin ini?” tanyanya lagi.

Sang ibu meraih buku sengketa tersebut, menutupnya, lalu meletakkannya di meja sebelah tempat tidur.

“Ibu tahu kamu sering penasaran. Mungkin tanpa sadar Ibu ingin suatu hari nanti kamu menemukannya karena akan lebih mudah menjelaskannya padamu. Tapi tidak secepat ini…”

Sepasang tangan si anak terulur mengusap air mata di pipi perempuan di hadapannya sebelum dia memeluknya erat. Lirih dia berbisik, “Terimakasih, Ibu.”


About this entry