Perempuan yang Menyerahkan Nyawa

Perempuan datang menyerahkan nyawa. Dia sudah merasakannya sejak awal. Dan Lelaki bersosok Adonis adalah algojonya malam itu.

“Gila! Nyetir berjam-jam bikin otakku panas. Aku perlu mandi,” ujar Lelaki menyeberangi kamar menuju sofa. Dibukanya sabuk, kancing celana dan retsleting jins. Semua tumpah ke lantai marmer sebuah kamar hotel transit yang biasa disewa per tiga jam.

Perempuan dengan nyawa sepenggal hampir tersedak melihat pemandangan tidak sewajarnya. Dia berbalik dan mendapati tumpukan handuk bersih terlipat di meja berkaca.

“Pakai ini. Beradablah sedikit,” sahutnya tanpa menoleh sambil melempar selembar handuk ukuran sedang.

Dari cermin di hadapan, Perempuan mencuri pandang pada Lelaki. Dia hanya terkekeh sambil membebatkan handuk di pinggang. Tungkai kiri liat kecoklatan nampak mengintip dari celah penutup. Sepasang tungkai kuat yang dia biarkan menjuntai di sofa tempatnya menghempaskan pantat kencang dan padat.

Tuhan… Kau memang Maha Kejam. Kau beri aku kesempatan menikmati salah satu spesimen pejantan terindah hanya dalam balutan pengering tubuh sehabis mandi. Celakanya, tidak Kau beri aku alasan menyentuhnya, kutuk Perempuan. Hanya di dalam hati.

“Temani aku mandi, Beib…”

“Nggak. Ini tanggal merah. Aku nggak kerja, berarti libur mandi,” tukas Perempuan yang lusuh seharian dihajar terik matahari.

Mataku nanar menatap langit-langit kamar. Ada yang menderas tak terbendung, menerabas semua penghalang, membuncah tanpa bisa dicegah. Jiwaku terbang menembus langit, merasakan kerlap kembang api mengalir dalam tiap pembuluh darah.

“Kau adalah buku, dan aku akan mengejamu. Huruf demi huruf.”

Hanya itu yang sempat kudengar ketika akhirnya kami sepolos bayi. Pembacaan kemudian hanya bisa terasa melalui gelenyar organ reproduksi kami yang semangat melaksanakan kerja.

Suara getaran ponsel di atas meja jati menghempas Perempuan kembali ke dunia nyata.

“Telepon. Mungkin istrimu,” ujarnya sambil lalu. Tangannya tetap cekatan mengeluarkan kertas dan laptop dari dalam ransel hitam. Melalui pantulan cermin yang sama, dia memandangi Lelaki menyeret langkah menuju meja dengan enggan.

“Kamu tahu beda antara making love dan sharing the bed?” tanyaku.

“Hmmm…?”

Lengannya melingkar di pinggangku dan sebelahnya dia relakan menjadi sandaran di bawah kepala. Kurasakan napasnya yang panas menyenangkan pada ceruk pertemuan leher dan bahuku.

“Making love adalah yang kita lakukan tadi, dimana perkelaminan adalah perihal memberi kepuasan. Bukan eksploitasi. Sharing the bed adalah yang kita lakukan sekarang. Berbagi ranjang dan kehangatan tubuh masing-masing hingga kita bangun nanti,” sahutku memberi penjelasan.

“Lantas, kamu lebih memilih yang mana?”

Aku membalikkan badan hingga mataku menentang matanya, mencari bayanganku sendiri pada sepasang telaga di wajahnya.

“Aku mau dua-duanya. Aku mau kamu disini sampai pagi.”

Permintaan itu hanya dijawab dengan rengkuhan dan ciuman lembut pada puncak kepala.

“Kamu sudah harus pulang?”

“Gampang. Belum begitu larut. Aku bisa pulang kapanpun. Dia menerima alasan masuk akal,” jawab Lelaki setelah selesai membalas SMS yang masuk.

“Kalau begitu, mari kita bekerja. Untuk itu aku kesini,” sahut Perempuan sambil menggelar barang-barangnya di atas tempat tidur king size. Tanpa disadari, Lelaki sudah berdiri di belakangnya. Seperti kucing, gerakannya anggun memeluk tubuh feminin yang duduk membelakangi di bibir ranjang.

“I want to make love to you, Baby. I miss you though I’ve never seen you before,” bisiknya, tepat pada telinga. Suara itu serak, dalam, dan sedikit bergetar.

Perempuan memejamkan mata.

“Aku sempat membayangkan sedang ngeloni kamu. ‘Adik’ku berontak. Kamu harus tanggung jawab,” ujarnya pada suatu malam melalui pesan pendek di layar ponsel.

Aku hanya tersenyum sinis. Kamu nggak akan mau kelon sama aku begitu kita bertatapan. Aku hanya cantik dalam tulisan, dalam cerpen yang kau edit melalui surat elektronik. Karena aku tahu kamu yang bakal pirsa.

Kamu, lelaki matang berputra dua dan suami seseorang. Terhajar pengalaman yang membuatmu berpikir layaknya brahmana sekaligus pujangga. Sementara aku hanya kacung kata-kata. Mendulang baris-baris kalimat demi rupiah penyambung hidup. Mencoba mencuri setitik ilmu layaknya Ekalaya berguru pada patung Durna.

Perempuan larut dalam setiap sentuhan yang tersaruk hinggap pada lengan, pada punggung, pada pangkal leher. Matanya masih terpejam, menikmati kejutan-kejutan listrik lembut yang membuat indera-indera lainnya menggeliat terbangun.

Akhirnya… Kami akan berlarian melompati konstelasi bintang hingga ke tepian semesta paling pinggir; menyatu bersama energi yang lekang sejak kali pertama bumi tercipta.

“Kamu jangan pergi. Aku ingin kamu ada terus disini.”

Aku tersenyum kecil.

“Istrimu nanti rindu. Dan aku bisa cari lelaki lain,” jawabku sekenanya.

Sontak, perempuan itu berontak dan berbalik.

“Ini nggak bener. Aku mau diajak kesini demi materi yang akan kita buat. Besok malam aku sudah harus kembali ke Jogja, sementara kita belum dapat apa-apa. Ayolah, Mas. Aku penulis dan kamu editorku, meskipun kita baru sekarang ini bertemu. Profesional, dong…”

Si lelaki mendesah. Wajahnya menyimpan lelah teramat sangat.

“Aku nggak bisa kerja sekarang. Aku mau kamu. Kamu… Istimewa.”

“Tapi aku nggak,” jawab si perempuan. Setan! Perempuan mengumpat dalam hati sambil menunduk, berpura-pura sibuk mencari file pada notebook karena tidak ingin kebohongannya terdeteksi dari mata.

“Baby…”

Suara itu putus asa.

Perempuan memungut nyawa yang sempat tercampak, mengenakannya kembali ke dalam raga agar kepala terangkat tegak. Dia bangkit dengan mata membara, menatap tajam pada algojo yang kehabisan tenaga, memunguti kepingan diri menyerpih pecah.

“Kalau aku kangen, gimana?”

Aku tersenyum kecut sambil memunguti pakaian terserak di sekitar ranjang. Mendapati nilai-nilai yang sempat kupanggul kemana-mana hilang seperti asap.

Kuketatkan selimut penutup tubuh, menolak dingin yang berasal jauh dari hati, mencoba melindungi kulit yang semakin kikis lapis demi lapis.

“Nggak bakal. Kamu punya istri cantik, serba bisa, dan setia. Juga dua junior ganteng dan pintar. Apalagi pekerjaanmu akan selalu bikin kamu sibuk. Mereka akan membantumu melupakan kita,” jawabku sambil beranjak ke kamar mandi.

“Kamu pulang sekarang. We call it off. Kita ketemu besok jam makan siang di foodcourt mall,” sahut Perempuan. Lelaki menunduk. Bersila tergugu. Hasratnya luruh, hatinya pilu.

Perempuan beranjak membuka pintu, ketika lelaki bangkit mengenakan celana.

“I am going to miss you. You know that,” sahutnya ketika aku keluar dengan pakaian lengkap sehabis mandi. Dia hanya menutup bagian bawah tubuh dengan selimut hotel, membuatku menggigil mengingat kecupan yang kutinggalkan diantara tulang selangka.

Aku hanya diam menghampiri lalu masuk dalam selimut. Menyerahkan punggung pada wajahnya. Membawa nyeri yang kupendam dalam saat tangannya memelukku erat. Aku akan lebih merindukanmu, sahutku dalam diam.

Mereka berhadapan. Lelaki menatap manik mata perempuan di hadapannya yang masih menyimpan kobaran api. Sepasang tangan mengusap lembut kedua pipi Perempuan.

“I am going to miss you. I know that you want me too. Your eyes are bad liar. Keep it that way. It keeps my sanity,” ujar Lelaki, mengecup kening Perempuan yang kaku tak bergerak.

Waktu beku ketika akhirnya mereka saling tatap, menyelami jiwa masing-masing dari sepasang jendela yang menguarkan anyir luka berdarah. Lungkrah demi menahan tuntasnya kejujuran purba untuk saling meledak dalam badai hormon.

Setelah sepersekian detik yang seperti seabad, lelaki pulang membawa bilur. Memacu turangga pada lengang jalan. Membuatnya terjaga bermalam-malam kemudian.

Pintu tertutup. Layar turun. Malam ini dua pemeran dalam lakon kehidupan memaki pagi yang datang terlalu dini.


About this entry