I Am Pain

I am pain
I am real
I’m not a dream
I’m the chain around your neck as you scream
Surrender now
You can’t beat death at his ruthless game
Make your bow
Hang your head in shame
(Ayreon – Day Three: Pain)

Mari kuceritakan tentang berbagai spektrum rasa sakit.

Ada sakit yang membuat luka pada batin, melarutkanmu dalam lara berkepanjangan, melindap jadi duka tak kunjung berujung, atau muak teramat sangat namun tak jua membuatmu muntah.

Aku punya sakitku sendiri. Berawal dari cinta tak berbalas dan tak terucapkan kepada sesama perempuan, kupendam dalam sepuluh pergantian kalender masehi. Dia yang ayu-pendiam-lembut-bersahaja, karibku sedari kecil. Ratna Arimbi Paramitha namanya.

Halus prilakunya menggantikan sosok Mama yang kasar. Airmatanya mengobati luka pukulan di tubuhku setiap Mama mabuk meratapi nasib ditinggal Papa kawin dengan sekretarisnya. Papa berusaha menebus kesalahannya melalui harta berlimpah, rumah megah dan mobil mewah. Namun itu tidak pernah cukup. Mama terlanjur menjadi monster mengerikan. Hasil dari satu spektrum sakit yang lain.

Aku mengenal Arimbi sejak kelas tiga sekolah dasar, awal ketika Papa membangun kerajaan hotelnya di Surabaya. Rumah kami bersebelahan. Kedua orangtuanya adalah sepasang dokter bedah ternama dengan ia anak sematawayang, sama sepertiku. Aku lupa bagaimana kami berkenalan. Namun akhirnya kami jadi kerap saling berkunjung karena kamar kami di lantai dua berhadap-hadapan. Lebih sering aku yang mengendap-endap mengetuk jendelanya pada malam-malam insomniaku datang, melalui dahan mangga yang menjulur dari jendelaku ke jendelanya.

Sakit yang kurasakan sekarang ini nyata, seperti kematian yang mengendap mampir ketika aku nyenyak bermimpi mencumbunya di bawah tetabur bintang pinggir pantai. Menyentak-nyentak hati seiring suaranya terisak pada ponsel di ujung sana.

“Kamu masih mau nikah sama dia meskipun kamu tau dia bajingan?” Tanyaku datar.

“Aku cinta dia, Nyu. Lima tahun kami pacaran dan aku mencoba kompromi pada satu kebusukannya. Toh dia masih menyimpan banyak sisi baik,” sahutnya.

“Cinta itu bullshit. Aku udah lama nggak percaya cinta.”

Perempuan itu mendesah berat, membuat belati dalam genggaman tanganku menggurit luka lebih dalam, lebih berdarah, pada bentuk sewarna merah marun dalam dada.

“Kamu belum pernah larut didalamnya hingga kamu merasa dirimu musnah dan hanya ada dia yang kamu cinta. Sesederhana itu, Anyu,” ujarnya.

Dan bodoh, tukasku dalam hati.

“Tapi kemudian kamu dapet apa, Imbi? Berapa banyak lagi bukti yang harus kusodorkan padamu? Aku udah kirim video persetubuhan panas antara Bre yang kamu puja itu dengan seorang tante yang usianya nggak jauh beda dengan ibumu. Padahal, dari ceritamu, dia cuma berani cium jidat kamu! Apa kamu nggak tersinggung?! Buka matamu, Imbi”

Aku mendidih membayangkannya terluka akibat satu orang lelaki. Sainganku.

Semua memang terjadi serba kebetulan. Ataukah takdir yang membuatnya seperti kebetulan? Entah. Kejadian-kejadian itu berkelindan, berpagutan, antara takdir dan peristiwa, tumpang-tindih satu sama lain hingga sulit dibedakan. Sama seperti cinta, sudah lama aku tidak percaya takdir. Aku hanya percaya bahwa manusia harus mampu mengubah nasibnya sendiri.

“Mungkin kamu salah. Mungkin itu wajah lelaki lain.”

Darling, kamu pikir ada berapa lelaki bernama Bre Wirabhumi Suryosumarno berusia dua tiga? Itu nama antik! Dan kamu tahu sendiri, keluarga Suryosumarno terkenal dimana-mana karena bisnis restoran mereka!”

Pengungkapan berawal dari keisenganku mengecek front office salah satu hotel bintang lima milik Papa di Jakarta yang berada di bawah tanggungjawabku. Saat itu Bre sedang check-in. Di sebelahnya seorang perempuan cantik menggelendot manja pada bahu kiri. Sayang, kecantikannya tidak lantas membuat mereka seperti pasangan pantas. Bre kutaksir tidak jauh beda denganku yang masih dua puluh dua, sementara perempuan itu terlalu matang untuk ukuran usia tigapuluh.

Setelah mereka pergi, aku buru-buru masuk ke ruanganku dan menelusuri database pelanggan pada salah satu layar komputerku sendiri. Aku agak ragu karena aku hanya mengenal Bre dari foto-foto yang dikirim Arimbi melalui email. Setelah mengetikkan namanya dan meng-klik tombol Search, deretan huruf dan angka yang tertera membuatku yakin dia adalah kekasih Arimbi. Tercatat, tiga kali Bre tinggal di kamar yang sama pada waktu berbeda—termasuk saat ini—kemudian check-out beberapa jam kemudian.

Hobi nakalku membuat rekaman para pelanggan yang sedang bercinta membuatku mengoleksi beberapa kamera mini yang kupasang teralis pendingin sentral di beberapa kamar—tanpa sepengetahuan siapapun. Dan kamar mereka adalah salah satunya. Tiga jejer monitor layar datar di depanku menampilkan beberapa adegan real-time dari tiga puluh kamera. Ketika pada salah satu gambar kudapati wajah buas Bre sesaat sebelum terbenam di antara payudara tante cantik itu, aku klik ikon recording.

Arimbi menjawab dengan keputusannya menikahi Bre dua minggu setelah video itu aku padatkan ke format zip dan kukirim ke alamat emailnya. Jawaban yang menghempasku kembali ke bumi setelah mengangkasa bersayap harapan atas hilangnya nama Bre dari hidupnya.

Sungguh, aku tidak mengerti dari apa hati perempuan terbuat.


About this entry