Elegi Sebuah Nama
Teori relativitas dan hukum kekekalan energi mengejewantah pada diri perempuan yang kukenal tiga tahun lalu. Duapuluhempat jam waktu hidup tiap hari ia padati dengan memberi les piano pada anak tuna netra di akhir pekan, membaca ensiklopedia, menyiram kembang, dan rutin berangkat ke kantor.
Tubuh lencir itu padat amunisi layaknya selongsong peluru. Padanya, energi tidak hanya kekal namun berpangkat dua. Membuat takjubku tak pernah sirna, pukul berapapun kutemukan raut riangnya. Wajah bulat berbingkai ikal rambut dengan buntut kuda poni yang selalu bergoyang, seiring kepala menoleh menebar lengkung indah dari bibir dan cahaya mata. Membuat siapapun ingin berdekat-dekat, ingin memandang lagi. Aku diantaranya.
Bermula dari sepasang sandal jepit hijau dikakinya dengan sisi bergambar burung layang-layang. Sandal yang nyaring bernyanyi diantara rinai high heels dan business shoes kulit berkerumun dalam lift, suatu pagi di sebuah gedung perkantoran Sudirman. Kesederhanaan tungkai terbalut kargo tiga per empat menggoda kepalaku mendongak. Kudapati ia berparas sejambon gulali kapas di pasar malam pinggir Jakarta. Manis dan lembut.
Dalam senyum dan tangan terulur, aku menyebut nama. Damarbhumi. Dia, Banyuagni. Kami tertawakan kebisuan kami berbahasa Jawa meski menyandang nama Jawa. Menganggap para orangtua kami terlalu cinta Indonesia padahal aku peranakan Italia dan dia Jepang. Perjalanan singkatku tiap hari ke lantai limabelas tidak pernah semenarik ini.
Tiga bulan setelah itu kami duduk berdampingan dalam sebuah rumah mungil, apik dan asri. Kunikmati malam bersama kopi Bali, profil wajahnya, dan jemari lentik menekan tuts berirama, membawa megah dan liris denting dawai dari dalam baby grand piano. Ia hidupkan arwah Chopin kembali ke bumi melalui Andante spianato in E-flat major, Op. 22. Tanpa cela. Seperti rambut hitam tergerai sedikit melewati bahu, kaus oblong putih dan celana khaki yang memeluknya mesra malam itu. Semua sempurna namun sederhana. Juga urap, nasi merah, tumis oncom, emping, dan puding buah yang tadi kami santap karena kami berpantang daging. Dia memasaknya sendiri sementara aku diminta duduk menikmati harum makanan menuju matang atau bergulingan dengan Tarjo, Golden Retriever manja usia setahun, di ruang tengah.
“Mengapa kamu tidak pernah kelihatan lelah?” tanyaku setelah nada terakhir berakhir.
Dia tertawa pelan dengan wajah sedikit menunduk. Sejumput ikal menjuntai, berontak dari belakang telinga. Sebaris geligi mengintip dari bibir ranum dan lembab. Ada desir lembut yang membuat jantung turun ke perut setiap melihatnya seperti itu. Andai Bedřich Smetana tahu gerak halus menyihir tidak hanya didapat dari indahnya komposisi Die Moldau…
“Banyak yang harus kulakukan. Aku bahkan nggak sempat lelah,” jawabnya.
Aku menangkap ironi pada ucapan.
“Kamu seperti orang mau mati besok aja. Come on! Santai lah sedikit!”
“Hidupku memang nggak lama lagi, Bhumi.”
Sekarang aku yang tertawa.
“Bullshit! Jangan main-main, Anyu. Kamu sehat dan bugar seperti melon organik di supermarket. Menyegarkan! Haha!”
Perempuan di sampingku menolehkan kepala, menatap tajam namun pilu. Ia menggeser duduknya hingga kami berhadapan. Sejenak, kuselami kejujuran sepasang jendela hati pada raut wajah secantik sakura.
Aku belum sempat menemukannya ketika dua larit darah segar mengalir pelan dari balik cuping hidung lalu menetes di kaus putih salju.
“Anyu… Hidungmu… Berdarah…” ujarku. Spontan, kurogoh saputangan pada saku kiri dan kuulurkan padanya.
“Oh, shoot! Nggak pa-pa. Sebentar lagi juga berenti. Udah biasa kayak gini kalau aku kecapekan. Thank you.”
Aku merasakan kegugupannya meski hanya sepersekian detik, sebelum tangannya meraih saputanganku dan menempelkannya ke hidung. Hanya sebentar, sehelai kain katun tipis biru muda berubah memerah.
Kubimbing bahunya ketika ia akan beranjak. Wajahnya tunduk, enggan mendongak. Aku tak tahu apakah ia malu, gentar, atau hanya lemah karena banyak keluar darah. Namun tubuhnya gemetar.
“Kamu lihat, Bhumi? Aku nggak setangguh itu.”
Aku tak menjawab. Kuantar ia hingga ambang kamar mandi. Aku berjaga seperti serdadu rendahan. Khawatir, waspada dan tanggap dari balik pintu. Dan kudapati hatiku mengucap syukur ketika ia keluar dengan wajah lebih tenang tapi pias.
“Kamu perlu rebahan, badanmu panas. Atau mau kuambilkan obat?” tanyaku setelah meraba dahinya. Dia mengangguk lemah dengan punggung bersandar pada dinding.
Ketika aku akan berbalik, langkahku tertahan oleh tarikan pada lengan.
“Kamu jangan pergi. Aku nggak mau sendirian…”
Hanya ia dan malam itu yang yang tak lekang oleh waktu, tiga tahun lalu. Kutuang air dari teko kristal dan melihat beberapa butir tablet, kapsul dan kaplet menghilang dari tangan ke mulutnya. Kurengkuh ia hingga matahari mengecup kening rembulan mengucapkan selamat pagi. Kurasai tubuhnya panas menyentuh kulit. Kubisikkan kata-kata penghiburan ketika ia bercerita tentang ganas leukemia sepuluh tahun terakhir; ketakutannya pada hidup yang tak sempat ia nikmati; dan rasa bersyukur pada dokter-dokter di Belanda untuk menangguhkan Izrail menjemputnya dari dunia.
Dan aku mengenang kegigihan, keberanian, dan keyakinannya kupersunting diantara tabung cairan dan kabel-kabel mesin penunjang hidup pada sebuah kamar rumah sakit ketika kondisinya makin memburuk. Aku mengingatnya dalam tenang teduh tajuk Oak, setenang anggukannya dua tahun lalu saat ingin kubuktikan canggihnya ilmu kedokteran membuat bayi tabung yang tertitip dalam rahim perempuan lain. Kulekatkan di hati wajah sumringahnya setahun lalu, pada ulangtahunku ketigapuluh. Ia memberiku sweater biru rajutan sendiri serta selarik ucapan yang dia tulis diantara selang-selang infus: Terimakasih, Bhumi. Karenamu aku hidup sehari lagi.
Dia tidak tahu. Karena dialah aku mengerti hidup dan mengenang.
“Come, Baby. It’s getting late. Mommy should rest now,” ujarku pada gadis kecil yang menurunkan rambut dan matanya namun memiliki hidungku. Tangan mungil dan gemuk meraih jemariku sambil tersenyum. Senyum malaikat yang selalu membuat hati ngilu karena kemiripannya dengan sang ibu.
“Wait, Daddy. I want to kiss Mommy good night.”
Ikalnya terayun seiring langkah mantap menaiki undakan. Bibirnya yang lucu maju, mengecup marmer putih kemudian berkata ‘I love you, Mommy’. Sebuah nama tergurat dalam tinta emas: Banyuagni Nakamura-Garcia, you’ll always be in our hearts…
About this entry
You’re currently reading “Elegi Sebuah Nama,” an entry on The Bitch Goes Lit
- Published:
- May 17, 2009 / 10:44 pm
- Category:
- Piece of Puzzle
- Tags:
23 Comments
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]