Tentang Senja dan Anjing Betina
“Kusisakan sepotong senja untukmu. Akan kuantar nanti sepulang belanja. Mungkin kesegarannya tak lagi sama. Jika tak sabar menunggu, kau bisa langsung menyendoknya dari atap kamarmu,” kata si lelaki. Ia menatap perempuan di hadapannya yang setia menemani langkah hingga usia dua empat. Saat ini, tepat.
“Sebenarnya aku sedang mencari senja cair agar bisa kuaduk bersama susu. Atau senja bubuk yang bisa kuseduh tiap aku rindu. Kau tahu dimana bisa kudapat senja seperti itu?” tanya si perempuan. Suaranya renyah, bergemericik nyaman di telinga lelaki. Dan ia menamainya Derai.
Ia mengulang adegan percakapan tadi malam di kepalanya, tersenyum-senyum sendiri mengingat bagaimana tiba-tiba mereka membicarakan senja: kesenduan dan kesederhanaan tanpa kata, teracuhkan seperti udara. Mungkin karena itu senja menjadi luar biasa indah. Ia teringat sebuah cerpen Seno Gumira yang manis bicara tentang senja, dan sejak saat itu ia tergila-gila. Untungnya, si perempuan sudah terlebih dulu mejadi penikmat rembang temaram ketika langit sewarna kesumba sebelum malam menjelang. Sayang, mereka tak pernah sempat bersama-sama menelusuri dan menyimak keindahan itu sambil sesekali menyesap susu hangat dan kopi kental kesukaan masing-masing hingga petang mengambang di beranda. Saat senja datang, selalu si lelaki yang tak pernah bertemu senggang. Entah mengapa. Padahal sebagai penerjemah freelance kelas Jakarta dan tinggal di Jogja, ia punya banyak sekali jeda. Itu semacam humor gelap semesta, begitu menurutnya.
“Suatu hari nanti kita harus menikmati senja bersama,” si lelaki mengusulkan. “Aku ingin membawamu ke pantai, bersama berlari mengejar buih, membelai rambutmu yang liar beterbangan ditiup angin sambil membenamkan kaki di pasir. Atau sekedar mengagumi lukisan jingga di wajahmu yang digambar matahari. Sederhana sekali, bukan? Setidaknya kita harus lakukan itu sekali sebelum mati.”
Gadisnya tertunduk. Pipinya merona, cantik. Jika tak ditahan-tahan, ia ingin sekali mendaratkan satu kecupan hangat yang pasti akan membuat jambon di sepasang pipi itu menjadi-jadi. Tapi ia tahu batas. Untuk mendampingi seorang perempuan lembut seperti Derai ia harus bisa menjaga diri, menjaga sikap, sedikit menjadi orang lain agar bisa dibilang pantas. Dan ia ingin sekali menemani perempuannya sampai akhir perjalanan.
Mereka bertemu pada suatu senja, dua tahun yang lalu. Ia melihatnya dari balik jendela, berjalan anggun di sebelah seorang nenek. Sepertinya mereka sedang menikmati sore di seputaran kompleks perumahan. Belum pernah ia melihat mahluk secantik Derai yang cara berjalan, ayunan tubuh dan lenggak-lenggoknya begitu terjaga. Meskipun tak lagi muda. Seperti di film-film roman kacangan, ia alami sendiri yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Di usia dua dua. Tak terlalu terlambat sebenarnya. Hanya waktu kelahiran yang membuat semuanya berbeda.
Ia menunggu Derai kembali melintas, harap-harap cemas apakah ia akan lewat jalan yang sama saat pulang nanti. Ia bikin kopi, ia siapkan nyali, lalu tenang-tenang merokok di beranda, menutupi debar-deru hati. Saat itu baru hitungan hari ia menempati rumah besar peninggalan paman—satu-satunya famili—yang mati bujang (dan ia agak yakin nasibnya bakal sama dengan almarhum karena sifat mereka sebentuk sebangun: pendiam, penyendiri, dan tak terlalu suka ramah-tamah). Ia tak berakrab-akrab dengan tetangga yang rata-rata pasangan muda kelas menengah beranak satu usia balita. Kesibukannya mengurus dokumen pindah, memasang sambungan internet dan tivi kabel serta beres-beres perabot—menata ulang pernak-pernik kehidupannya dalam rumah baru—ternyata menyita waktu.
Mereka kembali lewat, kali ini menuju arah sebaliknya, setengah jam kemudian. Ia beranikan diri untuk sekedar menemani hingga pagar. Dan mereka berkenalan sambil berjalan pelan. Ternyata Derai tinggal tak seberapa jauh, hanya berbeda dua blok. Rumahnya besar sekali dengan arsitektur lama gaya Belanda. Dan seperti dugaannya, Derai perawan tua. Mungkin ia tak tega meninggalkan saya yang sayang sekali sama dia, kata Eyang Putri—begitu beliau minta dipanggil—menatap Derai penuh kasih sambil membelai kepalanya. Hanya dia yang menemani Eyang Putri sejak Eyang Kakung tiada, karena dia kesayangan almarhum. Kami tak punya putra maupun putri. Orangtua Derai juga sudah meninggal. Karenanya kami saling melengkapi, lanjut Eyang Putri lagi. Dan sama seperti si lelaki, seperti Eyang, mereka sebatang kara. Tanpa sanak tanpa famili.
Setelah itu ia sering sekedar mampir ke rumah perempuannya. Ada-ada saja alasan ia bikin-bikin. Membelikan majalah untuk Eyang, lah; membetulkan keran kamar mandi yang bocor, lah; atau sekedar membelikan kudapan atau susu khusus untuk Derai yang tak pernah berkeberatan. Setiap ia mengucap salam sambil membuka pagar, Derai setengah berlari menyambutnya dengan riang, membuat apa yang terlihat mata jadi lebih berwarna. Dan perempuan itu tak pernah menolak kepalanya dielus sayang.
Di rumah itu hanya ada dua perempuan yang tak lagi muda dan dua bujang tua. Kadang salah satu dari lelaki itu merapihkan halaman dan tanaman sementara yang lain mencabuti rumput pagi-pagi, atau membersihkan jendela depan yang banyak dan lebar-lebar. Eyang tak begitu akrab bertetangga. Kadang beliau hanya mengangguk sambil tersenyum sopan pada pasangan muda yang berpapasan di jalan. Eyang dan si lelaki juga sama-sama vegetarian. Kadang Eyang membuatkannya tumis sayuran, tempe kukus atau bistik gelatin. Tergantung apa yang dibawa si lelaki sepulang belanja di supermarket. Eyang senang ceritanya didengar dan ditemani, dan senang jika si lelaki memperhatikan Derai. Hal-hal kecil semacam itu yang merekatkan mereka bertiga.
Sebulan sekali Pak RT datang, menagih uang iuran sampah dan keamanan sambil sedikit bicara basa-basi. Seperti biasa, Pak RT berpeci yang keningnya terdapat bulatan hitam itu akan pamit setelah menghabiskan secangkir teh manis hangat buatan Eyang. Dia sama sekali tak pernah melirik Derai, apalagi mengucap salam. Jika tatapan mereka bersirobok, Pak RT akan langsung membuang muka. Biasanya diiringi dengusan sebal. Eyang hanya tersenyum maklum.
Rumah itu hampir selalu sunyi dan damai. Kecuali saat Eyang sesekali memainkan piano besar yang ada di ruang tamu, melemaskan jemarinya yang sedikit rematik dan mengenang bagaimana ia berjaya sebagai pianis untuk kelompok sekelas orkestra. Eyang menghabiskan separuh umur di luar negeri karena Papa yang keturunan ningrat Jawa rela melepas gelar dan kewarganegaraan demi cintanya pada seorang perempuan Jerman.
Saat Eyang bertandang ke Wina untuk memperdalam ilmu perpianoan pada sebuah kursus singkat musim panas, beliau bertemu belahan jiwa yang sekolah musik di salah satu konservatorium. Beliau lelaki Austria tinggi besar dengan suara bariton menenangkan. Mereka menikah tak lama setelah Eyang Kakung selesai kuliah. Si lelaki sering memandangi sejarah keemasan mereka melalui beberapa foto lawas hitam-putih yang terpigura apik pada sebuah bufet jati tua, membayangkan adakah di zaman itu sudah ada kisah cinta aneh seperti yang dipunyai dia dan Derai.
Sesuai wasiat, kedua Eyang yang masih muda menengok Jogja, tempat nenek moyang dan semua kejadian mereka bermula. Kota damai dan tenang ini menawan hati hingga mereka putuskan untuk menetap. Tak lama kemudian mereka bertemu ayah Derai lalu mereka angkat sebagai anak, kawin, dan mati tertabrak mobil. Meninggalkan satu perempuan kecil untuk mereka urus.
Puluhan tahun mereka tinggal di Jogja. Eyang Kakung menemukan harmoni dalam laras slendro-pelog pada gamelan, pada saat membeber wayang kulit dan menyelami makna Baratayudha. Semua membuat lelaki Austria itu lambat laun berhati Jawa. Dan sebelum *misa requiem dimulai, Eyang Kakung sudah damai tertidur di peti mati, mengenakan beskap lengkap seperti akan berangkat kondangan. Sementara Eyang Putri anggun berkebaya hitam, menyusut airmata dengan isak tertahan yang luruh dalam bisikan kata-kata penghiburan dan pelukan penguatan dari murid-murid musiknya.
“Kamu tahu mengapa langit memerah ketika senja?” tanya si lelaki suatu hari saat ia berkunjung sepulang liburan.
Perempuannya menggeleng. Sepasang kejoranya pasrah seperti merpati, sementara si lelaki menatap tajam menghunjam. Ia ingin sekali-sekali nakal. Pandangannya menjelma pemburu yang menikam mangsa di hadapannya tepat pada manik mata, membuat perempuannya tertunduk malu sedikit jengah.
“Itu karena langit murka. Ia mencintai matahari utuh-seluruh, sementara alam dengan kejam hanya mempertemukan mereka ketika pagi dan senja,” jawabnya.
Derai kembali menengadah. Kepalanya sedikit miring ke kiri. Selalu begitu setiap ada hal yang membuatnya penasaran namun enggan bertanya.
“Iya. Matahari, kekasih Langit itu, tak pernah tahu dan memang tak perlu tahu. Matahari terlalu baik, merahmati semua yang ada di bawah Langit dengan berkah kehidupan, tanpa pilih-pilih. Kamu tahu? Langit itu aku. Dan kamu Matahariku.”
Derai hanya diam, namun matanya bergemuruh riuh suara cinta, membahana dalam kesenyapan, memenuhi tiap ruang kosong dengan nyanyian hingga kedua telinga mereka pekak. Siang itu, setahun lampau, si lelaki melanggar batas yang ia buat sendiri. Tanpa ragu ia rengkuh perempuannya, ia benamkan wajahnya ke dada dan ia peluk lama-lama. Derai tak berontak sama sekali. Mungkin menikmati. Si lelaki tak tahu dan tak mau ambil pusing.
Ia pulang dengan langkah ringan. Bahagia luar biasa.
Si lelaki tidur pukul sembilan pagi dan terbangun delapan jam kemudian tanpa merasa segar. Energinya seperti terkuras habis. Ia tertuduk lemas, masih menunggu serpihan nyawanya kembali utuh. Untung saja pekerjaannya selesai sebelum tenggat. Lima dari sepuluh lembar surat kontrak perusahaan multinasional harus ia terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dalam semalam. Ia kebut segera setelah beruluk salam perpisahan dengan Derai, bersamanya merayakan ulang tahun dua empat. Perayaan kecil yang intim. Hanya dia, Eyang dan perempuannya, menikmati sekeping petang di beranda. Mereka habiskan martabak terang bulan berdua. Bertiga sebenarnya, jika Eyang lengah dan mata rabunnya tak melihat si lelaki diam-diam meletakkan sepotong-dua martabak pada piring perempuannya. Derai hanya tersenyum nakal. Padahal ia tahu ia tak boleh mengunyah yang manis-manis. Apalagi coklat. Namun tak pernah ada yang memberitahu si lelaki.
Si lelaki baru akan bangkit membuat kopi ketika mendadak telepon di sebelah laptop berbunyi nyaring.
“Halo… Selamat sore…” Ia menyapa ragu-ragu. Kliennya tak mungkin menelepon ke rumah. Hubungan mereka hanya per surat elektronik dan perangkat genggam.
“Selamat sore, Nak Lanang. Bisa ke rumah Eyang sekarang?”
Duduk si lelaki sontak menegak mendengar kata-kata berikutnya. Ia tekan gagang telepon ke telinga, mencoba meyakinkan diri bahwa apa yang didengarnya adalah salah. Ternyata tidak. Darah di wajahnya seperti tersedot, membuatnya hampir sepucat mayat. Setelah beberapa kali anggukan dengan jawaban pendek-pendek “Ya” dan “Baik, Yang”, ia bergegas cuci muka menghilangkan kantuk di pelupuk tanpa sempat ganti baju. Ia panaskan mobil sebentar lalu berangkat memenuhi panggilan.
Di halaman depan salah seorang bujang tua menunggu dekat pagar yang sudah terbuka. Wajahnya cemas. Si lelaki turun terburu-buru. Hampir saja kaosnya terjepit gagang pintu.
“Gimana, Pak Man?” ia bertanya sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
“Ndak tahu, Den… Kayaknya tambah parah. Muntah-muntah terus dari siang. Sedang diurus Eyang,” jawab si bujang.
Di halaman belakang ia dapati Eyang bersimpuh di hadapan seekor anjing *Siberian Husky besar berbulu kelabu lebat yang tidur menyamping beralas handuk lebar. Mata si anjing setengah terpejam, menyembunyikan setengah bulatan berwarna biru di kanan dan abu-abu di kiri. Perutnya dengan cepat turun-naik seiring napas memburu. Lidahnya menjulur keluar dari mulut yang terbuka separuh. Liur bekas busa di pinggir mulut masih membayang. Cuping hidung yang memutih itu bergerak menuruti udara yang keluar-masuk dengan cepat. Si lelaki terhenyak, terduduk di sebelah Eyang. Tangannya reflek mengelus kepala anjing dan memandang ke perempuan tua yang masih tetap bersimpuh di sebelahnya.
“Mala kenapa? Salah makan, Yang?” tanya si lelaki. Kepanikannya tak bisa ditutupi.
“Sepertinya iya. Mungkin karena martabak yang dia curi dari piringmu semalam,” jawab Eyang tenang.
Tangan si lelaki berhenti mengelus. Ia merasa bersalah.
“Lanang bawa mobil, Yang. Kita bawa Mala ke dokter Galih.”
Eyang menggeleng. Matanya tetap teduh menatap si lelaki yang panik.
“Mala sudah terlalu tua. Umurnya lima belas tahun lebih. Untuk ukuran manusia, usianya sudah hampir seratus lima. Rasanya Mala tidak akan bertahan melewati tindakan medis apapun. Lagipula, dokter Galih sedang seminar kedokteran hewan di Jakarta,” jawab Eyang hati-hati.
“Tapi…”
Tiba-tiba Siberian Husky itu mengangkat kepala. Ia jilati tangan si lelaki dengan kekuatan yang tersisa, dengan mata terpaku pada Eyang yang kali ini tak bisa menahan tangis. Bendungan di kedua mata beliau jebol. Si lelaki juga. Dan binatang itu rebah meregang nyawa. Diam tak bergerak. Selamanya.
*
Kurang dua puluh empat jam setelah perayaan ulang tahunnya yang ke dua empat, Lanang kehilangan Mala, seekor anjing betina cantik yang ia namakan Derai. Seperti nama kekasihnya ketika SMA yang mati digigit anjing gila.
Senja datang dan ia menangis sambil mengubur sesosok hewan besar warna kelabu di halaman belakang rumah Eyang, menguburkan juga dialog-dialog khayalan dan hubungan cinta tanpa batas antara anjing dan manusia. Hatinya terlalu sakit. Namun ia temukan sedikit penghiburan ketika menuliskan kisah ini sampai selesai, seperti mencipratkan sedikit air pada jiwa rekah dan benak yang lungkrah. Meski luka batinnya masih berdarah.
Keterangan:
* Misa requiem: Misa Pemakaman Katolik yang berasal dari kalimat pertama bagian pembuka ritus yang digunakan dalam misa pemakaman orang mati oleh para imam: Réquiem, ætérnam dona eis, Dómine; ex lux perpétua lúceat eis. (Berikanlah istirahat kekal kepada mereka, O Tuhan; dan biarkan cahaya abadi menyinari mereka).
* Siberian Husky: termasuk dalam jenis anjing ras berukuran medium dan berbulu tebal, tidak ganas, bahkan terlalu baik dan manja terhadap manusia. Sekilas mirip serigala, mungkin juga diperkirakan terjadi karena hasil persilangan alam. Aslinya ras ini dikembangkan oleh masyarakat Chukchi di daerah Asia timur laut sebagai anjing penarik kereta untuk membawa beban sejak akhir tahun 1800an.
Sumber: Situs Wikipedia Indonesia.
About this entry
You’re currently reading “Tentang Senja dan Anjing Betina,” an entry on The Bitch Goes Lit
- Published:
- November 30, 2011 / 2:05 pm
- Category:
- Piece of Puzzle
- Tags:
2 Comments
Jump to comment form | comment rss [?] | trackback uri [?]